REOK BARAT, MANGGARAI – Kabut duka kian menebal di tepian Tiwu Pai, Desa To'e, Kecamatan Reok Barat. Hingga hari keenam pencarian, Jumat (16/1), keberadaan Armedo W. Jeverson, siswa SMP Fransiskus Xaverius Ruteng yang hilang tertelan arus, masih menjadi misteri yang menyayat hati.
Tim SAR Gabungan yang terdiri dari Basarnas, TNI AL, Polairud, Polsek Reo, dan Koramil 1612-02/Reo telah mengerahkan seluruh daya upaya. Penyisiran air dilakukan secara berulang, menembus kedalaman kali tiwu pai yang tenang namun berbahaya. Meski dihadang medan yang sulit dan peralatan yang terbatas, semangat kemanusiaan tim di lapangan belum surut.
Ikhtiar Lahir dan Batin
Ritual ini bukan sekadar tradisi, melainkan cerminan keputusasaan sekaligus harapan besar masyarakat Manggarai agar alam "melepaskan" Armedo. Bagi keluarga, setiap detik yang berlalu tanpa kabar adalah luka yang kian menganga.
Menanti Kepastian di Ambang Batas SOP
Camat Reok Barat, Tarsisius Asong, menyampaikan bahwa pencarian saat ini berada di titik krusial. Sesuai dengan Standard Operating Procedure (SOP) Basarnas, operasi pencarian direncanakan berlangsung selama tujuh hari hingga sabtu (17/1)
"Besok adalah hari ketujuh sesuai SOP. Namun, masa pencarian masih dimungkinkan untuk diperpanjang apabila ada permintaan resmi dari pihak keluarga dan pertimbangan teknis di lapangan," ujar Tarsisius.
Duka Kolektif dan Pengingat Keselamatan
Tragedi di Tiwu Pai ini bukan sekadar berita kehilangan, melainkan luka kolektif bagi warga Manggarai. Peristiwa ini menjadi pengingat pahit bagi para orang tua dan instansi terkait akan pentingnya pengawasan ketat terhadap anak-anak di lokasi rawan bencana air.
Di balik prosedur administratif dan hitungan hari, ada sebuah keluarga yang menolak menyerah. Harapan mereka sederhana agar armedo ditemukan. Media dan masyarakat luas berharap pemerintah tidak terburu-buru menutup buku pencarian ini sebelum ada titik terang bagi keluarga yang ditinggalkan.
Penulis:Piter Bota
Nope:081337605177



